[Download] ➵ Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial Author Sukarno – Horse-zine.co.uk

Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial chapter 1 Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial, meaning Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial, genre Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial, book cover Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial, flies Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial, Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial be26d42abd2f8 Sungguh Sebuah Ironi Bahwa Buku Ini Lebih Sering Ditemukan Di Pasar Buku Bekas Untuk Diperjualbelikan Dengan Harga Selangit Ketimbang Dibicarakan Di Ruang Ruang Kelas Kita Pemikiran Soekarno, Satu Dari Sekian Bapak Bangsa Yang Harus Kita Revitalisasi Ulang Pemikirannya, Yang Penuh Dengan Agitasi Dan Ajakan Untuk Bergerak Dulu Bahkan Ada Istilah Djakarta Di Djaman Bergerak Sungguh Terlalu Besar Untuk Dikesampingkan


10 thoughts on “Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial

  1. says:

    SISELIADI bulan April 1955, saat membuka Konferensi Asia Afrika, Bung Karno sempat berkisah tentang seseorang yang mengendarai kuda tengah malam Lelaki pemberani itu, Paul Renes England, tepat 118 tahun yang lalu melalui distrik New England untuk memberitahukan tentang kedatangan pasukan pasukan Inggris Yang terjadi setelah itu Perang Kemerdekaan Amerika, perang anti kolonial yang untuk pertama kali dalam sejarah mencapai kemenangan Ada kutipan puisi Longfellow yang dibacakan Bung Karno untuk kisah ini a cry of defiance and not of feara voice of darkness a knock at the door and a word that shall echo for ever 10 tahun setelah proklamasi, cerita itu bagus buat mengenang perjuangan kemerdekaan yang telah lama diteriakkan di zaman kolonial Hindia Belanda Tapi sebelum merdeka ramalan tentang tentang Indonesia tidak melulu optimisme berapi api.Dalam buku cetak Indonesia Menggugat halaman 28 kita bisa mengetahui ramalan sejarah dan memahami mengapa pertanyaan di awal karangan ini mungkin ada jawabnya, mungkin penting dijawab Sebab, seperti kita baca, pada Desember 1929 Bung Karno meramal akan adanya Perang Pasifik Ramalan itu menentang ilusi ilusi pemimpin Indonesia saat itu yang menganggap Jepang akan jadi hero suatu barang bohong, suatu barang justa, suatu impian kosong, bagi nasionalis nasionalis kolot, yang mengira Jepang lah yang akan membentak imperialisme Barat dengan dengungan suara Berhenti Bukan membentak berhenti, tetapi dia sendirilah yang akan menjadi belorong imperialisme yang angkara murka Dia sendirilah yang ikut menjadi hantu yang mengancam keselamatan negeri Tiongkok Memang ramalan itu terbukti Bertahun tahun kemudian Jepang, belorong imperialisme yang disebut Bung Karno itu, melakukan perang tanding di dalam perang Pasifik , bertempur maha hebat dengan belorong belorong Amerika Serikat dan Inggris Tapi sebenarnya tak hanya itu Pada tahun 1931, Bung Karno meramal pula tentang kekayaan tambang Indonesia yang akan musnah dirampok pengusaha pengusaha tambang swasta, mijnberdrijven partikelir Kekayaan itu musnah selalu ada penekanan dalam kata musnah di sana, di mana Bung Karno mengatakannnya berulang ulang dan masuk ke dalam kantong beberapa pemegang andil belaka Orang orang Indonesia hanya dimanfaatkan oleh kaum modal partikelir Sebab, ada pandangan bahwa tenaga produksi dan rendahnya tingkat pergaulan bangsa Indonesia hanya cakap buat menjadikannya buruh buruh Barangkali yang menarik bagi kita di zaman ini adalah pertanyaan Bung Karno setelah itu, Siapakah nanti yang bisa mengembalikan lagi kekayaan kekayaan tambang itu Bung Karno terasa pesimis dua kali kita membaca kalimat berturut turut yang mirip mirip untuk penegasan bahwa musnahlah kekayaan itu buat selama lamanya Dan terasa pula dalam kalimatnya itu suatu tantangan bagi kita yang masih hidup dalam sejarah dan masih membacanya dengan tekun apakah kita Kekhawatirannya itu kini takselesai Kata kata buat selama lamanya rasanya kekal Dan orang orang Indonesia yang disebut banyak menjadi buruh itu, seperti di Mesuji, setelah bertahun tahun lamanya agaknya lelah Tapi bukan hanya buruh di Mesuji, melainkan rakyat, semua yang terbiasa tertindas, kini waswas dan mencoba berontak Di Indonesia pandangan analitis diperkenalkan Profesor Wertheim dalam Elite Perception and The Masses dengan konsep sosiologi ketidaktahuan sociology of ignorance Pengabaian elit atas buruh sebagai massa rakyat bisa jadi berawal dari ketidakingintahuan elit dan karakterisasi dari dua kelompok yang hidup terpisah Contoh ekstrim diambil Wertheim dari buku Deep South yang terbit pada tahun 1941 para penduduk urban berkulit putih Old City melakukan karakterisasi, yang pada akhirnya nanti disebut represi terhadap suatu realitas sosial , tentang massa sebagai no count lot atau tidak perlu dihitung Ia juga mencoba mengutip Brecht dalam Opera Pengemis beberapa orang ada di dalam kegelapansementara beberapa lainnya di tempat yang terangorang tentu melihat mereka yang ada di tempat terangsedangkan mereka yang di kegelapan tetap tak terlihatOrang di tempat yang terang, para elit, tak bisa atau tak mau melihat mereka yang ada di kegelapan Akibat dari sosiologi ketidaktahuan itu adalah terlantarnya para buruh, sementara para elit sibuk memikirkan perut sendiri Barangkali kita bisa merunutnya dari cara cara Orde Baru Wilbert Moore dan Melvin Tumin dalam Some Social Functions of Ignorance menyebutkan, sebagaimana dikutip Wertheim, ada ketidaktahuan yang disengaja dan diciptakan untuk fungsi positif mempertahankan suatu masyarakat yang stabil dengan cara perahasiaan atau monopoli pengetahuan Saya teringat pemberontakan buruh tenun di Provinsi Silesia, di Prusia tahun 1844 Waktu itu buruh buruh Eropa gelisah, salah satunya disebabkan penemuan teknologi baru di bidang tekstil yang membuat pekerja tradisional terancam menganggur Para buruh di daerah pegunungan itu mengobrak abrik pabrik, merusak peralatan, menyerang rumah para pemilik Segera Raja Frederick Wilhelm IV memerintahkan tentara menindak Dua belas pekerja tewas tertembak.Marx pada Agustus tahun yang sama menulis sebuah artikel di V rwarts mengomentari tragedi Siselia Menurutnya Negara, sebagaimana yang diyakini Hegel merupakan pengejawantahan rasionalitas dan kebebasan, tak mampu menjadi pengayom yang rasional dan menjaga kebebasan Emansipasi politik ternyata tak cukup Apa yang dilihat Marx adalah sebuah pertentangan antara kebebasan dan keadilan untuk semua orang suatu posisi filsafat Hegel yang dominan di Prusia masa itu melawan kebutuhan ekonomi yang mementingkan diri sendiri Di Mesuji dengan pedih kita seperti menyaksikan kembali dunia yang, tulis Marx, terpecah belah berhadapan dengan sebuah filsafat total.


  2. says:

    Boekoe ini dan naskah Soewardi Soerjaningrat jang berdjoedoel als ijk een nederlander was sudah lama saija tjari namoen om google poen beloem memberikan tjahaja terang di mana naskah itu berada.Saija koetipkan dari wikipedia, dengan tidak oesah dioebah itoe edjaan tjape saija nantinja Lagi poen ini naskah ditoelis dalam bahasa belanda jang kemoedian diterdjemahkan oleh Abdoel Moeis AFAIK Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginyabarang kali khalayak gooreaders bisa memberi saija petoendjoek dimana naskah penting itoe bisa saija dapatken.semoga boedi toean dan poean jang memperhatikan seroean saija ini diberikan tempat moelia dalam tjatatan malaikat dalam boekoe kebaikan.Nant S


  3. says:

    buku dengan bahasan yg sulit mengingat bahasa Indonesia yg digunakan adalah bahasa tahun 1930 an dan tentang politik pula


  4. says:

    buku yang menarik dibacakan ketika diadili di landraad bandung menarik karena terus kontekstual dengan kondisi Indonesia Yang perlu diingat, kolonialisme itu tidak hanya dari bangsa asing tetapi juga dari bangsa sendiri.


  5. says:

    pengen banget baca ini v_v


  6. says:

    This book collection of speech written in 1930 by Sukarno, originally a defense speech pledoi during his trial on 18 August 1930, its continuation of his arrest that beginning on 29 December 1929 This event is a turning point in Sukarno career, which makes him very popular Sukarno is found guilty and sentenced four year, which due to strong pressure in the Netherlands and Dutch East Indies, he only serves one year and released on 31 December 1931 This book has five chapter 1 Imperialism 2 Imperialism in Indonesia 3 Indonesia Movement 4 Indonesia National Party 5 Violation Article 153 and 169 defense.Introduction ChapterIn this section, Sukarno argues that he is not guilty He said that this trial is a political process, and he has political believe ideology , he wants the judge to be fair, not use an elastic interpretation of the law, and should not be subjective The reason he doing this is that so many bad things that native Indonesian rakyat experiences, which according to Sukarno is due to imperialism.Ch 1 ImperialismSukarno said that he does not agree with the accusation of anti capitalism Netherlander and anti imperialism Netherland Government , he argues basically that capitalism imperialism is a concept a bad concept that is not referred to his accusation, similar with anti excessive capital accumulation It seems he agrees that this bad concept is inevitable.Ch 2 Imperialism in IndonesiaSukarno argues by using VOC as his evidence, that VOC brings a hardship for native Indonesia, due to its monopoly system He argues that 1830 Cultur Stelsel is bad for poor people, and as evidence of old capitalism He then argues based on modern capitalism 1870, which also the same as the monopoly but powerful as the ownership of land capital is concentrated He argues the profit of than 35% from tobacco, kina that has no benefit to poor people Sukarno thinks that without fair distribution of wealth, people work as modern slavery.Ch 3 MovementShort chapter, Sukarno argue that movement like him is inevitable, a messianic mahdi, heru cokro that will rise due to hardship.Ch 4 Indonesia National Party the longest chapter, around 60 70% book This is the controversial part Sukarno argues that the only solution to this hardship is Indonesian Independence When Indonesia getting independence, the decision will be made based on national interest, not based on capital owner interest I think this part is the most radical thinking of Sukarno Some highlights 1 Independence is the only solution2 All colony wants to get freedom3 Believe on self effort berdikari 4 Although imperialism coming from the richer smarter country, independence is the only choice5 People that not support is because has conflicting interest, self reliance is a must6 Classic quotation Indie is de kurk waarop Nederland drijft, Hindia adalah gabus di atas mana negeri Belanda 7 Believe in aggressive movement but against nihilism, argue that it is a non violence movement This is the controversial part.8 Want independence, but against violence movement, against revolt against the government This is the good part, a realistic vision, this is gold, this is good.9 Again, anti violence10 He wants a radical, revolutioner Sukarno wants a real, direct change.11 Again, we are anti violence Sukarno does not agree with violence accusation.12 The good part, Sukarno argue that with a sense of nationalism, people will get the benefit, will be a better life.13 How to have nationalism romanticism, past glorification.14 Core problem in imperialism 1 Divide and rule 2 Morality Slavery Culture 3 Racism Inferiority Culture 4 Dependency Culture15 Marhaenism vs Kromoisme Borgouise 18 Again, anti violenceChapter 5 Violation Article 153 and 169Sukarno argues that he did not do any provocation of anti government He mentions that he is anti imperialism capitalism but did not anti government Isme in his argument is a stelsel system He did not blame Holland.


  7. says:

    Marhaen pasti menang


  8. says:

    Sebuah buku yang berisi pidato Bung Karno Presiden Pertama RI di depan hakim kolonial Isi pidatonya bisa membuat rasa nasionalisme kita membara kembali, meskipun pidatonya berpuluh tahun yang telah lewat.PS Sebenarnya buku yang kubaca tidak memiliki cover sebagus ini, karena buku ini q temukan di antara barang barang tua milik alm kakekku Bukunya jadul buangetsz, ejaan lama, dengan dua kolom tulisan kiri bhs indonesia tempoe doeloe,kanan dalam bahasa belanda , warnanya sdh coklat BGT dengan beberapa halaman yg sdh berlubang2 krn diincipi kutu buku wis vokoknya jadul,pi mbwt q seneng memilikinya


  9. says:

    Buku terberat yang pernah saya baca sampai sekarang Berat karena ditulis dengan kata kata dan kalimat tahun 90an Berat karena di setiap tulisannya tergambar jelas penderitaan rakyat Indonesia.Melalui buku ini juga kita dapat mengetahui dengan jelas betapa luasnya pengetahuan Bung Karno dengan melihat jumlah buku yang dibaca oleh beliau.


  10. says:

    first read it for my blind friend many thanks, Hendar, for bringing this kind of world to my life start collect new published later onthe moral story there s nothing could prison our mind to grow everyday nothing


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *